Menjelang Senjakala Ketika Perlahan-lahan Langit Menjadi Hitam & Gelap Gulita


Sebuah refleksi akhir tahun.


Akhir-akhir ini cuaca di kotaku sering tak menentu. Kadang kala cerah panas hingga melepuhkan kulit, kadang kala awan hitam menggelapkan langit dengan petir dan angin kencang yang menerbangkan dan meluluhlantakkan atap rumah dan pepohonan.

Ketika angin kencang dan awan gelap menggelayut disore hari, malam seakan ingin cepat datang berkunjung dan mengurung semua senyum diwajah anak-anakku. Kami hanya berkumpul bersama di dalam kamar saling memeluk dan menguatkan, menepis dan membuang rasa takut dihati anak-anak ketika petir dan angin kencang tiba-tiba menghampiri.


Ada rasa syukur dan bahagia ketika mereka memeluk dan ketakutan. Ada rasa dibutuhkan dan kepercayaan dimata mereka. Keyakinan bahwa mereka akan aman selama dalam pelukan kedua orang tua.


Tapi bagaimana apabila hal ini terjadi 20 atau 3o tahun yang akan datang ? Mereka anak-anakku telah menjadi tangan yang memeluk dan menenangkan cucu-cucuku. Mereka tak ada lagi di rumah ini.


Ketika aku sendirian di dalam rumah kosong dan sepi, hanya berdua sepasang orang tua renta tak berdaya. Apa yang akan terjadi ketika awan gelap, angin kencang dan hujan deras menerpa pondok tempatku berteduh ? Adakah tangan yang akan memelukku dan bisikan mesra yang akan menenangkanku ketika aku takut ?

Aku pribadi memiliki pengalaman menarik dengan para manula. Mbah buyut putri masih hidup di usia lebih dari 100 tahun, mbah putri masih hidup di usia 90 tahun lebih, dan tetangga yang masih bisa berjalan di usia 90 tahun lebih.


Setiap hari tidak banyak aktifitas yang bisa dilakukan selain diam membeku. Badan terbelenggu dalam ketidakberdayaan dan hanya bisa pasrah menunggu saat ajal tiba. Duduk terpaku dengan tatapan mata kosong, memandang lurus kedalam kehampaan dengan mata yang tidak lagi jelas melihat, mencoba mengingat masa lalu yang sudah tak lagi bisa dibayangkan, seraya menahan rasa sakit dan ringkih yang semakin mendera.


Kehilangan rasa hormat dan penghargaan dari orang-orang terdekat. Berganti menjadi rasa kasihan dan bahan lelucon yang kadang kala menyakitkan hati. Mereka tertawa dibalik ketidakberdayaan, ketidakmampuan dan kematian organ-organ tubuh yang menua dan mengeras perlahan-lahan.


Daya ingat terjebak dalam ruang dan waktu yang salah. Tidak lagi bisa mengingat kejadian kemarin dan hari ini, tetapi terkunci dalam kenangan masa kecil dan masa lalu yang muncul dalam sekilas memori otak. Muram dan suram hanya itu yang ada dalam bayangan.


Kemampuan mengontrol organ tubuh sudah usai. Seringkali kotoran dan sisa makanan terlepas dan terbuang dari tubuh tak terkontrol. Bukan pelukan, usapan dan senyuman mesra yang didapat dari anak dan keluarga, melainkan keluhan dan keenganan mereka untuk memeluk dan mendekat. Bau busuk dan jorok yang ada di pikiran mereka.

Di manakah rasa sayang dan cinta yang dulu pernah kita berikan ? Tidakkah akan menjadi cermin dan kaca benggala buat cinta mereka kepada kita disenjakala kita kelak ?


Mari kita renungkan dan pikirkan dengan jernih dan lapang hati ..


Ketika aku sedang mencari referensi dan bahan bacaan untuk tulisan-tulisanku, tiba-tiba muncul di timeline facebook, sebuah tulisan yang di posting oleh pamanku Soedarsono Kasdi, seorang purnawirawan TNI bintang dua yang saat ini sudah berusia 70 tahun lebih. Beliau menyadur sebuah tulisan yang tidak disebutkan dari mana asalnya. Isinya sangat menarik dan sama seperti yang sedang aku pikirkan.


Pamanku menulis tentang sebuah renungan berdasarkan sebuah novel karya pemenang hadiah sastra Mao Dun, Zhou Daxin, dalam novel terbarunya yang akan diterbitkan, "Langit Menjadi Gelap, perlahan-lahan (The Sky Gets Dark, Slowly)."


Tulisan ini adalah eksplorasi sensitif usia tua dan dunia emosional lansia yang kompleks dan tersembunyi dalam masyarakat yang menua dengan cepat.

Orang-orang di sisi Anda akan terus berkurang jumlahnya.


Orang-orang dari generasi orang tua dan kakek-nenek Anda sebagian besar telah pergi, sementara banyak teman sebaya Anda akan semakin sulit merawat diri mereka sendiri, dan generasi muda semua akan sibuk dengan kehidupan mereka sendiri. Bahkan istri atau suami Anda mungkin pergi lebih awal dari Anda, atau lebih cepat dari yang Anda harapkan, dan yang mungkin terjadi adalah hari-hari kehampaan. Sepi. Anda harus belajar bagaimana hidup sendirian, untuk menikmati dan merangkul kesendirian."


Masyarakat akan semakin tidak peduli pada Anda.


Tidak peduli seberapa mulia karier Anda sebelumnya atau seberapa terkenal Anda, penuaan akan selalu mengubah Anda menjadi pria tua dan wanita tua biasa. Sorotan tidak lagi menyinari Anda, dan Anda harus belajar berpuas diri dengan berdiri diam di sudut, mengagumi dan menghargai keriuhan dan pemandangan yang datang kepada Anda, dan Anda harus mengatasi keinginan untuk iri atau menggerutu.


Jalan di depan akan berbatu dan penuh dengan kesulitan.


Patah tulang, penyumbatan kardio-vaskular, atrofi otak, kanker ... ini adalah semua tamu yang mungkin dapat mengunjungi Anda kapan saja, dan Anda tidak akan bisa menolaknya. Anda harus hidup dengan penyakit dan gangguan kesehatan, dan bahkan memandang mereka sebagai teman; jangan berfantasi tentang hari-hari yang tenang dan stabil tanpa kesulitan di tubuh Anda. Mempertahankan sikap jiwa positif dan olah raga yang tepat dan memadai adalah tugas Anda, dan Anda harus mendorong diri Anda untuk terus melakukannya secara konsisten.


Mempersiapkan hidup terikat di tempat tidur, kembali ke keadaan bayi.


Ibu kita membawa kita ke dunia ini di atas ranjang, dan setelah melakukan perjalanan yang berliku-liku dan kehidupan yang penuh perjuangan, kita akan kembali ke titik awal - ranjang - dan ke keadaan harus dirawat oleh orang lain. Satu-satunya perbedaan adalah, dulu kita memiliki ibu untuk merawat kita; ketika kita bersiap untuk pergi, kita mungkin tidak memiliki kerabat untuk merawat kita. Bahkan jika kita memiliki sanak saudara, perawatan mereka mungkin tidak pernah menyamai perawatan ibumu; Anda akan, lebih mungkin daripada tidak, dirawat oleh suster perawat yang tidak memiliki hubungan apa pun dengan Anda, yang menyungging senyum di wajah mereka sambil menyimpan keletihan dan kebosanan di hati mereka. Berbaring diam saja lah dan jangan rewel. Ingatlah untuk bersyukur.


Akan ada banyak penipu dan pengecoh di sepanjang jalan.


Banyak dari mereka tahu bahwa orang tua memiliki banyak tabungan, dan tanpa henti akan memikirkan cara untuk menipu mereka: melalui telepon penipuan, pesan SMS, surat, makanan dan sampel produk, investasi kaya-cepat, produk untuk umur panjang atau pencerahan ... pada dasarnya, yang mereka inginkan hanyalah mendapatkan semua uang Anda. Waspadalah, dan berhati-hatilah, pegang uang Anda di dekat Anda. Orang bodoh segera akan berpisah dengan uangnya, jadi habiskan uangmu dengan bijak.

Dengan demikian, pada usia 60 tahun, akan lebih baik bagi kita semua, untuk melihat kehidupan apa adanya, untuk menghargai apa yang kita miliki, untuk menikmati hidup selagi kita bisa, dan untuk tidak memikul masalah masyarakat atau urusan anak-anak dan cucu bagi diri sendiri.


Tetap lah rendah hati, jangan bertindak sebagai orang yang lebih tinggi karena usia Anda, dan merendahkan orang lain - ini akan menyakiti diri sendiri dan juga menyakiti orang lain. Seiring bertambahnya usia, semakin baik kita bisa memahami apa itu rasa hormat dan apa artinya. Di hari-hari terakhir kehidupan Anda ini, Anda harus memahami apa artinya, melepaskan keterikatan Anda, untuk mempersiapkan diri secara mental. Jalan alam adalah jalan hidup; ikuti arusnya, dan hiduplah dengan tenang.


Tulisan yang sangat bagus, sangat indah, dan sangat benar ....!


Rasanya hari baru dimulai dan sekarang sudah menjelang sore. Rasanya baru tiba pada hari Senin dan hari ini sudah hari Sabtu ... dan bulan Desember 2019 sudah berakhir ... dan tahun sudah berlalu ... dan sudah 50 atau 60 atau 70 tahun hidup kita telah lewat ... dan kita menyadari bahwa kita kehilangan orang tua, teman-teman ... dan kita menyadari bahwa sudah terlambat untuk kembali ...


Jadi, mari kita coba untuk mengambil keuntungan penuh dari waktu yang tersisa. Jangan berhenti mencari aktivitas yang kita sukai. Mari kita beri warna pada dunia kelabu kita ...

Mari tersenyum pada hal-hal kecil dalam hidup yang memberi balsem penyembuh di hati kita. Namun, kita harus terus menikmati waktu yang tersisa dengan tenang.

Mari kita coba menghilangkan kata "nanti" .. Saya akan melakukannya nanti, saya akan mengatakan nanti .. saya akan memikirkannya nanti ... Kita menyisakan segalanya untuk 'nanti' seolah-olah "nanti" adalah milik kita.


Karena yang tidak kita pahami adalah setelah itu kopi mendingin, setelah itu prioritas berubah, setelah itu pesona rusak, setelah itu kesehatan berlalu, setelah itu, anak-anak tumbuh, setelah itu orang tua bertambah tua, setelah itu janji-janji dilupakan, setelah itu hari menjadi malam dan setelah itu hidup akan berakhir ...

Kita lebih sering terlambat .. terlambat sadar ..


Apa yang bisa kita lakukan sekarang ?


Jangan tinggalkan apa pun untuk 'nanti'. Karena dengan selalu menunggu nanti, kita bisa kehilangan momen terbaik, pengalaman terbaik, teman terbaik, keluarga terbaik ...

Hari itu adalah hari ini. Saatnya adalah sekarang. Kita tidak lagi pada usia di mana kita mampu menunda sampai besok, apa yang perlu lakukan segera!

Ketika anda masih sehat dan masih memiliki segalanya, persiapkan masa senjamu dengan bijak :

  1. Gaya hidup hemat dan sehat. Olahraga, pola makan yang baik dan pola hidup yang sehat akan bisa membantu anda beraktifitas dengan baik untuk bekerja dan berusaha demi masa depan dan hari tua. Biaya hidup tidak akan membuatmu bangkrut asal tidak mengikuti gaya hidup yang berlebihan. Bedakan kebutuhan dan keinginan. Gunakan maksimal 60% dari income bulananmu untuk membiayai hidupmu. Jangan paksakan dan jangan berhutang demi sebuah life style.

  2. Smart Investing. Tabungan tidak akan bisa memberikan pertumbuhan untuk mengejar peningkatan inflasi di hari tua kelak. Perlu investasi cerdas dan hati-hati. Jangan pernah percayakan uangku kepada orang lain meskipun itu adalah sahabat anda sendiri. Lebih baik kelola sendiri uang dan investasimu atau melalui lembaga investasi yang orang-orang yang memiliki keahlian untuk itu. Sisihkan 20% income bulanan untuk investasi masa depanmu.

  3. Protek kesehatanmu sekarang, selagi masih muda dan masih memiliki penghasilan. Proteksi kesehatan membutuhkan dana yang tidak sedikit untuk orang-orang yang telah berusia lanjut. Ketika muda biaya asuransi kesehatan jauh lebih murah. Sisihkan 10% income bulanmu untuk proteksi kesehatan dan proteksi incomemu. Pilih proteksi kesehatan yang bisa mengkover resiko kesehatannya selama mungkin, paling tidak hingga 85 tahun untuk mengantisipasi panjang umur dan tanpa penghasilan, dengan batas manfaat tinggi untuk mengantisipasi peningkatan biaya kesehatan yang sangat tinggu tiap tahunnya.

  4. Perbanyak kegiatan dan aktifitas sosial keagamaan. Aktifitas ini akan meningkatkan rasa bahagia dan rasa syukur. Sisihkan 10% dari income bulananmu untuk membantu sesama yang membutuhkan dan tidak lebih beruntung dibanding dirimu.


Pohon yang besar tempatmu berteduh tidak tumbuh dan rindang hari ini. Perlu waktu bertahun-tahun untuk kuat dan bermanfaat. Saatnya menanam pohon besarmu hari ini, untuk tempatmu berteduh dibawah rindangnya dedaunan dan semilir angin nan sejuk kelak di senjakala dirimu.


Langit memang akan perlahan-lahan hitam dan gelap, tetapi selalu saja ada bulan dan bintang-bintang yang akan menyinari dan menerangi kita di kegelapan malam. Seperti pelaut nenek moyang kita yang berlayar menyeberangi samudera luas nan gelap dengan panduan bintang utara menuju ke tujuan dengan selamat.


Selamat Tahun Baru 2020.


Selamat menanam pohon teduh dan rindangmu hari ini.


Yogyakarta - 31 Desember 2019


Penulis :

Herman Josef SH

Virtual Office & Voga digital

Editor in Chief

4 views0 comments

Recent Posts

See All