"The World of The Married Couple”


Jujur, saya bukan seorang penggemar Drama Korea. Saya adalah penggemar film Hollywood bergenre action, science fiction atau komedi, bukan drakor yg menurut saya terlalu menye-menye, gak ada bedanya sama sinetron Indonesia yang berseri-seri hingga belasan. Ciri khasnya sama, banyak episode dan ceritanya muter-muter gak jelas.

Tetapi beberapa minggu ini saya terpaksa nonton beberapa episode terakhir “The World of The Married”. Ya mau gimana lagi, gara-gara social distancing gak ada kegiatan ya nonton film apapun dilakuin. Mulai dari film action, thriller, drama sampai film-film animasi Disney, India bahkan Sponge Bob pun saya tonton.

Balik “The World of The Married”. Drama Korea ini ide ceritanya sebenarnya sangat sederhana hanya bercerita tentang cinta, perselingkuhan, sakit hati dan trauma di dalam kehidupan rumah tangga.

Tetapi yg menarik bagi saya bukan plot cerita dan para pemerannya. Kekuatan film ini ada di endingnya.

"Ah, endingnya gak asyik nih"

"Percuma nonton 16 episode kalau akhirnya gak jelas gini."

"Itu akhirnya gimana sih kok gak ngerti saya"

Beberapa komentar tentang ending “The World of The Married yang saya baca di beberapa social media. Cukup banyak yang kecewa dengan ending yang menurut mereka tidak happy ending atau bahkan tidak juga sad ending. Gak jelas lah pokoknya.

Tetapi justru inilah yang menarik.

Akhir dari episode ini sama seperti juga kehidupan manusia yang tidak jelas akhirnya. Karena tidak ada yang namanya happily ever after seperti dalam dongeng Cinderella dalam hidup ini. Sometimes happy, sometimes depressed, kadang berantem, kadang kecewa, kadang ada harapan, kadang hanya tinggal kenangan.

Tidak ada orang yang salah seratus persen dan tidak ada juga yang benar-benar lurus kelakuannya. Tidak ada manusia yang sempurna dan tidak ada orang yang selamanya jelek dan jahat.

Karakter & Masalahnya


Tokoh utama drama ini Jii Sun Woo, seorang istri yang juga berprofesi sebagai dokter. Suaminya bernama Lee Tae Oh seorang yang berprofesi sebagai produser, yang kemudian berselingkuh dengan sosok wanita muda yang cantik bernama Yeo Da Kyung anak seorang yang sangat kaya dan berkuasa di kota Gosan Korea Selatan.

Konflik ini dimulai sejak episode pertama, yakni ketika Jii Sun Woo menemukan sebuah lipstik dari mantel suaminya Lee Tae Oh. Di situ ia mulai curiga bahwa suaminya berselingkuh, dan ia pun menyelidiki sendiri perselingkuhan suaminya yang ternyata benar.

Setelah mengetahui perselingkuhan suaminya, Jii Sun Woo, dalam drama ini, melakukan sebuah kesalahan yang fatal juga. Ia pun ikut selingkuh dengan teman suaminya sekaligus tetangganya, yang bernama Son Je Hyuk.

Dalam drama ini, pasangan Jii Sun Woo dan Lee Tae Oh memiliki anak yang bernama Lee Joon Young, seorang remaja berumur 13 tahun. Lee Joon Young diceritakan sudah mengetahui perselingkuhan ayahnya sendiri saat acara ulang tahunnya, bahkan mengetahui secara langsung ketika ayahnya telah melakukan tindak kekerasan terhadap ibunya.

Berdamai Dengan Diri Sendiri.

Yang saya maknai pesan dari drakor ini adalah semua tokoh pada akhirnya bisa berdamai dengan dirinya dan menemukan kedamaian dalam hidupnya. semua berdamai dengan dirinya masing-masing. Lee Tae Oh akhirnya menyadari kesalahannya meski terlambat dan mulai cari kerja dari nol. Jii Sun woo mencoba memaafkan dirinya sambil menanti kepulangan anaknya. Lee Joon Young butuh waktu untuk menerima semuanya dan akhirnya kembali ke ibunya.

Beberapa catatan atas karakter dalam drakor ini

  1. Muara dari permasalahan ini adalah Lee Tae Oh yang akhirnya menerima ganjaran dari perbuatanya, kehilangan segalanya, cuma tersisa baju di badan, dan ketika dia masih serakah ingin lebih dengan minta kembali ke Jii Sun-Woo. Anak semata wayang meraka Lee Joon Young tidak terima, terlanjur sakit, akhirnya menghilang. Lee Tae Oh akhirnya gak dapet apa-apa.

  2. Korban pertama kasus ini Lee Joon Young, bertahun-tahun dia memendam sakit hati karena perbuatan orang tuanya, ketika dia mau membuka hati berusaha memaafkan, malah melihat ibunya goyah. Dia pun kecewa.

  3. Korban kedua Ji Sun Woo yang punya posisi sangat sulit. Kasian sama mantan suami, meski kelakuan sampah gimanapun mereka pernah menghabiskan bertahun-tahun waktu bersama, dan dalam kurun waktu itu semua kenangan indah, sampai ketika suami mulai melakukan kesalahan. Tapi anak tetaplah prioritas utama.

  4. Korban ketiga sekaligus sumber masalah Da kyung? Mungkin kalau di Indonesia akan disemprot para emak-emak dan dikatain sebagai pelakor. Tetapi anehnya pelakornya malah lebih kaya dari lakinya. Mungkin bisa jadi murni karena cinta atau bisa jadi karena tantangan. Sayangnya, ini bukan sinetron azab, jadi gak ada hubungannya dengan azab atau karma. Yang pasti Da kyung kehilangan masa mudanya yang berharga. Dia mau memulai hidup baru dan sementara menjauh dari pria untuk tidak mengulang kesalahan yg sama.

  5. Korban keempat Yerim kenapa gak jadi melanjutkan hidup dengan Je Hyuk? Yerim sadar hidupnya terlalu berharga untuk selalu dikelilingi rasa cemas trauma perselingkuhan suaminya, Meski Je Hyuk sudah bertobat dan berjanji akan berubah dan melakukan yang terbaik untuk mereka tetapi Yerim tetap selalu diliputi rasa cemas dan trauma akibat pernah dikhiaanati Je Hyuk. Yerim tetap tidak bisa menerima, Memaksakan untuk menerima keadaan kembali dengan Je Hyuk hanya akan lebih menyiksa dan menyakitkan.

  6. Mungkin sebagian penonton kepenginnya Ji Sun-woo jadian ama dokter Kim ? Bahkan saat itu Sun Woo pun belum bisa memaafkan dirinya, bagaimana dia bisa membuka hati untuk orang lain? Dokter Kim Yoon ki juga tahu itu, makanya dia juga hati-hati banget.

Tetapi pada akhirnya adalah happy ending untuk mereka semua. Mereka sudah bisa menerima kehidupan baru yang mereka alami saat ini. Berdamai dan akhirnya bisa beradaptasi dengan kehidupan baru yang tentunya tidak akan pernah sama lagi.

Refleksi buat kita

Seringkali kita ketika menghadapi masalah direspon dengan sikap marah, menyalahkan orang lain atau keadaan. Yang lebih parah lagi menyalahkan diri sendiri. Kalau tahap marah ini hanya sebentar gak papa kali ya. Itung-itung pelepasan emosi biar lega.

Tetapi yang sering terjadi adalah denial dan menyalahkan ini berlangsung lama dan berlarut-larut. Sudah tidak jelas lagi bermasalahnya dengan siapa dan yang di amuk siapa. Semua orang serasa ikut bersalah dan menertawakan posisi kita.

Tatapan mata orang dengan sangat mudah diartikan sebagai sebuah cibiran atau pandangan sinis terhadap permasalahan yang kita hadapi. Padahal bisa jadi anggapan tadi hanya ilusi atas ketakutan kita sendiri.

Ketika masalah menghampiri, memang sebaiknya direspon dengan instropeksi diri. Terima, endapkan dan berdamai. Mengapa ini terjadi. Lihatlah kedalam. Apakah masalah ini terjadi karena kesalahan kita ataukah karena kelalaian kita.

Sebenarnya tanda-tanda akan munculnya masalah sudah kelihatan ketika anda melakukan atau tidak melakukan sesuatu. Anda melakukan kesalahan yang tidak seharusnya anda lakukan atau anda lalai tidak melakukan yang seharusnya anda lakukan. Kemudian anda berpura-pura dan berharap keadaan akan baik-baik saja. All is gonna be OK.


Jika masalah terjadi karena kesalahaan, evaluasi kembali tindakan dan perkataan kita di masa lalu. Apa saja yang membuat masalah ini menjadi membesar dan meledak saat ini. Ketika masalah terjadi karena kelalaian kita, evaluasi lagi apa yang belum kita lakukan dan kita persiapkan di masa lalu sehingga akumulasi kelalaian kita menyebabkan bom waktu masalah kita meledak saat ini. Evaluasi, pahami dan jangan ulangi lagi kesalahan dan kelalaian kita di masa yang akan datang.

Yang pasti masalah selalu meledak di saat kita tidak siap. Seperti perampok disiang bolong di tengah keramaian kota. Tidak diduga dan sepertinya tidak mungkin terjadi. Ketika benar-benar terjadi, kita hanya bisa bengong dan bertanya, kenapa ini terjadi ? Why me ?

Kehidupan sangat sederhana. Anda akan menuai apa yang anda taburkan. Anda menabur masalah anda akan menuai masalah, anda tidak menabur benih, anda tidak akan memanen hasil.

Make Peace to Yourself


My friend, tidak bisa lagi anda menyalahkan diri sendiri atas kesalahan dan kelalaian di masa lalu, karena sudah tidak bisa diperbaiki lagi. Yang bisa kita perbaiki adalah masa depan kita. Dan percayalah masa depan tidak akan pernah ada jika anda tidak bisa berdamai dengan keadaan anda di masa kini. Yang terpenting anda harus bisa berdamai dengan diri anda sendiri saat ini. Maafkan diri anda, terima kondisi hari ini sebagai sebuah kondisi baru yang tidak lagi sama dengan masa lalu, dan move on. Life must go on.

Jalani hidup anda dengan lebih baik, tidak untuk membalas dendam tetapi untuk merajut impian di masa depan dengan jalan yang berbeda. Impian bisa saja tetap sama, tetapi jalan yang akan anda tempuh tentunya akan berbeda. Bisa lebih mudah bisa jadi lebih buruk. At least ketika anda menghadapi masalah lagi di masa depan, anda sudah pernah menghadapi masalah dan tahu bagaimana harus menghadapinya kembali. Kepala dingin, hati yang terbuka dan sebuah senyuman. Silahkan datang padaku semua masalah, karena aku sudah punya kekuatan yang lebih besar dari semua masalah apapun.

Aniway, The Married of The Married Couple ini bukan hanya tentang perselingkuhan, tapi sebenarnya tentang kehidupan itu sendiri. Bukan hanya tentang balas dendam tapi tentang arti berdamai dengan diri sendiri.


Penulis :

Herman Josef SH

Virtual Office & Voga Digital

Editor in Chief

366 views0 comments